Selasa, 23 Juni 2009

Pantai Takisung

Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas daerah sebesar 41.467,75 Km2 terletak di daerah khatulistiwa. Kalimantan Selatan terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa, sungai-sungai, dataran tinggi dan pegunungan dengan lembah dan ngarainya. Di bagian selatan dan timurnya dilingkungi oleh pantai dan laut. Dengan memiliki daerah yang seperti itu tentu banyak wisata-wisata alam yang amat menarik. Kita bisa melihat beberapa contoh dari obyek wisata yang ada di Kalimantan Selatan. Misalnya saja untuk wisata pantai kita dapat mengunjungi Pantai Takisung. Pantai itu sendiri merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut waktu surut hingga ke arah daratan sampai batas paling jauh ombak/ gelombang menjulur ke daratan. Jadi, daerah pantai dapat juga disebut daerah tepian laut.

Pantai Takisung terletak di Kecamatan Takisung yaitu sebelah barat wilayah Kabupaten Tanah Laut. Berjarak kurang lebih 22 km dari kota Pelaihari atau kurang lebih 87 km dari ibu kota Kalimantan Selatan yaitu Banjarmasin. Meskipun Pantai Takisung merupakan Laut Jawa, namun ombaknya tidak besar seperti halnya pantai selatan pulau Jawa. Sehingga aman untuk wisata maupun menjadi pemukiman.

Sebagai objek wisata, Pantai Takisung bisa digolongkan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa dengan pasirnya yang coklat seperti air lautnya (untuk identifikasi airnya, yaitu dari hasil observasi didapatkan pH airnya 9 yang tergolong basa dengan suhu 250C dan kecepatan aliran airnya sebesar 1927 rpm, sedangkan tingkat kecerahan airnya sebesar 32 cm), ditemanin banyak pasar-pasar yang menjual jajanan khas pantai, mulai dari ikan asin, hiasan kerang, udang, ikan, sampai terumbu karang langsung dari nelayan. Ditambah lagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut yang terus mempoles objek wisata ini melalui pembangunan sejumlah fasilitas umum yang tak dimiliki objek wisata pantai lainnya. Diantaranya, selter, panggung permanen, rumah makan (belum dioperasionalkan), dan penginapan.

Namun kini, Pantai Tangkisung mengalami kerusakan. Kerusakan pantai sepanjang sekitar satu kilometer tersebut terjadi karena ombak yang semakin tinggi hingga ke daerah pemukiman para nelayan yang mana akibat dari kuatnya gerusan air laut yang mengakibatkan abrasi atau pengikisan pantai. Abrasi di Pantai Desa Tabonio diperkirakan mencapai 50 meter, yang mana berarti jarak pantai dengan perkebunan dan pemukiman penduduk semakin dekat, yang dikhawatirkan bila tidak cepat diatasi akan merusak perkebunan dan pemukiman masyarakat sekitar pantai. Penyebab kerusakan daerah pantai tidak hanya akibat abrasi, tetapi juga penebangan dan intensnya aktivitas tambang di stockpile dan pelabuhan batu bara. Kalau limbah batubara dan sampah yang menumpuk di pantai masuk ke laut, yang mana berpotensi merusak ekosistem laut dan akhirnya mengurangi produktivitas kelautan, contohnya saja dilaporkan populasi ikan terus menyusut secara signifikan menyusul rusak dan hilangnya habitat bagi beberapa jenis ikan pesisir dan pantai.hutan mangrove yang seluruh arealnya rusak seluas 86,41 ha di Desa Takisung. Penebangan hutan juga dipandang sebagai salah satu penyebab kotornya pantai. Pasalnya, limbah dari aktivitas penebangan biasanya dialirkan melalui sungai, lalu ke luar melalui pantai. Selain itu masyarakat masih memandang laut sebagai tempat pembuangan sampah (sampah/limbah organik yang berasal dari pemukiman penduduk maupun sampah non organik yang berasal dari industri). Sampah tersebut ada yang berasal dari daratan yang terbawa gelombang, ada pula yang sengaja dibuang manusia ke laut. Sampah atau limbah organik itu juga menyebabkan pencemaran laut. Walau limbah dari rumah tangga/ pemukiman dapat teruraikan, tetapi dampaknya terhadap kestabilan hidup di laut cukup besar. Pengaruh (limbah) darat lebih besar datang dari limbah yang tidak bisa teruraikan. Limbah anorganik sangat berbahaya bagi manusia. Sumber pencemaran perairan pesisir dan lautan dapat dikelompokkan menjadi 7 kelas, yaitu industri, limbah cair pemukiman (sewage), limbah cair perkotaan (urban stormwater), pertambangan, pelayaran (shipping), pertanian, dan budidaya perikanan.

Upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah abrasi pantai yang mencapai 5 sampai 10 meter per tahun adalah dengan membangun siring dan menanam pohon untuk penahan gelombang atau pemecah ombak yang berfungsi mengurangi kerusakan pantai akibat kerasnya hantaman ombak. Tetapi, usaha untuk menanam pohon tersebut gagal, karena tidak dipelihara dan apabila air pasang pohon tersebut akan mati. Sedangkan pemasangan beronjong kawat baja diisi batu gunung, cukup effektif untuk menahan laju abrasi. Namun konsekuensinya, Pantai Takisung tidak memiliki lagi yang namanya hamparan pasir landai, serunya anak-anak berlari dipinggir pantai yang ada hanya tumpukan batu-batu penghalang ombak dan kambing yang hilir mudik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar